Pembelajaran Saintifik Abad 21

Pembelajaran Saintifik Abad 21

Metode scientific pertama kali diperkenalkan ke ilmu pendidikan Amerika pada akhir abad ke-19. Metode scientific ini memiliki karakteristik “doing science”. Metode ini memudahkan guru atau pengembang kurikulum untuk memperbaiki proses pembelajaran, yaitu dengan memecah proses ke dalam langkah-langkah atau tahapan-tahapan/ sintaks secara terperinci yang memuat instruksi untuk peserta didik melaksanakan kegiatan pembelajaran (Maria Varelas and Michael Ford, 2008). Hal inilah yang menjadi dasar dari pengembangan kurikulum 2013 di Indonesia.

Pendekatan scientific atau lebih umum dikatakan pendekatan ilmiah merupakan pendekatan dalam kurikulum 2013. Dalam pelaksanaannya, ada yang menjadikan scientific sebagai pendekatan ataupun metode. Namun karakteristik dari pendekatan scientific tidak berbeda dengan metode scientific (scientific method). Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.

Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologi) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karakteristik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses (Permen No. 65 Tahun 2013).

Pendekatan scientific dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.

Untuk memperkuat pendekatan scientific diperlukan adanya penalaran dan sikap kritis siswa dalam rangka pencarian (penemuan). Agar dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu metode ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan eksperimen, kemudian memformulasi dan menguji hipotesis.

Metode Ilmiah

Metode ilmiah merujuk pada:

(1) adanya fakta

(2) sifat bebas prasangka

(3) sifat objektif

(4) adanya analisa.

Dengan metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunyai sifat kecintaan pada kebenaran yang objektif, tidak gampang percaya pada hal-hal yang tidak rasional, ingin tahu, tidak mudah membuat prasangka, selalu optimis (Kemendikbud, 2013: 141).

Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non ilmiah. Pendekatan non ilmiah dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan melalui coba- coba, dan asal berpikir kritis (Kemendikbud, 2013).

Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output]. Penilaian proses pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian otentik (authentic assesment) yang menilai kesiapan siswa, proses, dan hasil belajar secara utuh (Permen No.65 Tahun 2013).

Pendekatan scientific menjadi trending topic pada pelaksanaan  kurikulum  2013.  Pembelajaran  berbasis  pendekatan scientific ini lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10 persen setelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50 – 70 persen.

Permendikbud nomor 65 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik/ilmiah. Pendekatan saintifik/ilmiah merupakan proses pembelajaran yang menggunakan proses berpikir ilmiah. Pendekatan ilmiah dapat dijadikan sebagai jembatan untuk perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan dan pengetahuan peserta didik. Sesuai materi Kemendikbud, dinyatakan bahwa dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan pendekatan induktif (inductive reasoning) daripada pendekatan deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk menarik simpulan secara keseluruhan.

Pembelajaran melalui pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.

Penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran menuntut adanya perubahan setting dan bentuk pembejaran tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran tradisional. Metode yang dipandang sejalan dengan prinsip pendekatan saintifik/ilmiah adalah problem based learning, project based learning, inkuiri, dan group investigation. Metode-metode tersebut mengajarkan kepada peserta didik untuk mengenal masalah, merumuskan masalah, mencari  solusi,  menguji  jawaban  sementara  dengan  melakukan penyelidikan (menemukan fakta-fakta melalui penginderaaan), dan pada akhirnya menarik simpulan dan menyajikan secara lisan maupun tertulis. Kemendikbud (2013) memberikan konsepsi bahwa pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Komponen-komponen tersebut dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran, tetapi bukan siklus pembelajaran.

Sebuah proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dapat disebut ilmiah bila proses pembelajaran tersebut memenuhi kriteria- kriteria berikut (Kemdikbud, 2013).

No. Langkah Saintifik Kegiatan Team Investigation
1. Mengamati Langkah 1. Identifikasi topik dan organisasi peserta dalam kelompok

•  Guru memberikan penjelasan topik yang dipelajari

•  Siswa mengidentifikasi topik pembelajaran

•  Siswa membentuk kelompok besar

•  Guru memberikan tugas awal setiap kelompok

2. Menanya Langkah 2. Merencanakan tugas belajar

•  Guru mengajak siswa diskusi dan mengarahkan agar siswa dapat merumuskan pertanyaan atau permasalahan yang akan dipelajari

3. Mencoba Langkah 3. Melakukan penyelidikan

•  Guru  memberikan  lembar  kegiatan

•  Guru memberikan arahan keberhasilan kegiatan

•  Siswa menyiapkan alat dan bahan praktik

•  Siswa melakukan praktik dan mencatat hasil

4. Menalar Langkah 4. Menyiapkan laporan

•  Siswa membahas hasil praktik dalam kelompok

•  Guru dapat melakukan intervensi dalam diskusi

•  Siswa menyusun laporan sementara

5. Mengkomunikasikan Langkah 5. Presentasi laporan akhir

•  Siswa melakukan presentasi hasil kerja kelompok

•  Siswa  melalui  fasilitasi  guru  menyimpulkan hasil  kegiatan

•  Guru memberikan penugasan kelompok di rumah

Langkah 6. Evaluasi

 

Sund & Leslie (1973) mendefinisikan Scientific Method sebagai proses sains yang terdiri dari enam langkah, yaitu :

(1) stating the problem

(2) formulating hypotheses

(3) designing an experiment

(4) making observation

(5) collecting data from the experiment

(6) drawing conclutions.

Tahap-tahap yang diusulkan ini, sebagaimana pendapat-pendapat sebelumnya, dimulai dari masalah. Masalah tersebut biasanya dimunculkan dengan suatu pertanyaan ilmiah. Proses berikutnya juga relatif senada, yaitu membuat hipotesis, melakukan observasi dan atau eksperimen, dan akhirnya membuat kesimpulan.

Berdasarkan berbagai pendapat sebagaimana telah diuraikan, maka dapat dikatakan bahwa Scientific Method adalah jalan untuk membuat dan menjawab pertanyaan ilmiah (scientific questions) melalui observasi dan atau eksperimen.

Adapun tahap-tahap Scientific Method dapat disebutkan terdiri dari:

(1) Membuat pertanyaan ilmiah

(2) Melakukan kajian teoritis (research)

(3) Mengkonstruksi hipotesis

(4) Menjalankan observasi dan atau eksperimen

(5) Menganalisis data dan membuat kesimpulan

(6) Melaporkan hasil (publikasi).

Proses pembelajaran scientific merupakan perpaduan antara proses pembelajaran yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan (Kemendikbud, 2013). Meskipun ada yang mengembangkan lagi menjadi mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengolah data, mengkomunikasikan, menginovasi dan mencipta. Namun, tujuan dari beberapa proses pembelajaran yang harus ada dalam pembelajaran scientific sama, yaitu menekankan bahwa belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat. Selain itu, guru cukup bertindak sebagai scaffolding ketika anak/siswa/peserta didik mengalami kesulitan, serta guru bukan satu-satunya sumber belajar. Sikap tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan keteladanan.

 

Sumber : Ebook Sintak 45 model pembelajaran.

Penulis: DR. H. Moch. Agus Krisno Budiyanto, M.Kes,

Penerbit : Universitas Muhammadiyah Press Malang

Alamat: Jln Raya Tlogomas no 246 Malang 65144 Jawa Timur

E-mail: ummpress@gmail.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please wait...

Silakan Bantu Subscribe GRATIS

Dapatkan notifikasi update terbaru via e-mail. Isikan nama dan email Anda terlebih dahulu. Semoga berkah.
Follow This :