Belajar Tanpa Batas

Webmatika-Website Pendidikan Berbagi

Model pembelajaran populer di indonesia

Model pembelajaran populer-Berikut ini disajikan model pembelajaran yang umum dan sering dilakukan oleh guru dalam praktik pembelajaran di kelas dan beberapa model pembelajaran yang relatif baru yang lagi “naik daun” di Indonesia dalam praktik pembelajaran di kelas yang sengaja diperkenalkan pada kesempatan ini.

Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)

Tugas guru adalah membantu siswa memperoleh pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu), pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang sesuatu), dan mengembangkan keterampilan belajar. Kami berikan Model pembelajaran populer yang semoga bisa membantu guru untuk memahami model-model pembelajaran.

model-model pembelajaran populer

Pembelajaran langsung yang terfokus pada prinsip-prinsip psikologi perilaku dan teori belajar sosial. Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.

Baca jugaTeori Belajar Humanistik- Definisi lengkap

Pada model pembelajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pelajaran dengan menjelaskan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa menerima penjelasan guru. Fase persiapan dan motivasi ini kemudian diikuti oleh presentasi materi ajar yang diajarkan atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu.

Pelajaran itu termasuk juga pemberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata.

Pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif, pembelajaran langsung mensyaratkan tiap detil keterampilan atau isi didefinisikan secara seksama dan demonstrasi dan jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secara seksama. Meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini terutama berpusat pada guru.

Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan dan resitasi (tanya jawab) yang terencana. Ini tidak berarti bahwa pembelajaran bersifat otoriter, dingin, dan tanpa humor. Ini berarti bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberikan harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik. Model pembelajaran populer ini bisa digunakan dan cukup bermanfaat untuk digunakan.

Belajar Secara Kooperatif (Cooperative Learning)

Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pembelajaran langsung. Model pembelajaran ini dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi soasial dan hubungan antar manusia. Misalnya, telah dibuktikan bahwa pembelajaran kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnik dalam kelas yang bersifat multikultural, dan hubungan antara siswa biasa dengan penyandang cacat.

Secara ringkas tujuan pembelajaran kooperatif dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Belajar secara kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif konstruktivis dan teori belajar sosial.

Terdapat enam fase utama di dalam model pembelajaran secara kooperatif. Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi; seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.

Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya.

Guru menerapkan suatu strutur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan semua prosedur, namun siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu ke waktu di dalam kelompoknya. Jika pembelajaran kooperatif ingin menjadi sukses, materi pembelajaran yang lengkap harus tersedia di ruangan guru atau di perpustakaan atau pusat media. Keberhasilan juga menghendaki syarat dari menjauhkan kesalahan tradisional, yaitu secara ketat mengelola tingkah laku siswa dalam kerja kelompok.

Di samping unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit, model ini sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis, dan kemampuan membantu teman.

Model pembelajaran populer-Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem-Based Instruction)

Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBM) tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran langsung dan ceramah lebih cocok untuk tujuan semacam ini.

Model pembelajaran berdasarkan masalah utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri.

Baca jugaTeori Belajar behavioristik secara lengkap

Tujuan pembelajaran berdasarkan masalah adalah keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah; pemodelan orang dewasa; dan pebelajar yang otonom dan mandiri. Pendekatan kontemporer pada pembelajaran berdasarkan masalah bertumpu pada psikologi kognitif dan paradigma kontruktivistik tentang belajar.
Sintaks PBM terdiri dari lima fase utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan dalam 2 sampai 3 kali pertemuan. Namun untuk masalah yang kompleks mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Tidak seperti halnya lingkungan belajar yang terstruktur secara ketat yang dibutuhkan untuk pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelompok kecil pembelajaran kooperatif, lingkungan belajar dan sistem manajemen pada PBM dicirikan oleh: terbuka, proses demokrasi, dan peranan siswa aktif.

Dalam kenyataan keseluruhan proses membantu siswa yang otonom yang percaya pada keterampilan intelektual mereka sendiri memerlukan keterlibatan aktif dalam lingkungan berorientasi inkuiri yang aman secara intektual. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran PBM yang terstruktur dan dapat diprediksi, norma di sekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat.

1. Pembelajaran Diskusi Kelas

Terlepas dari pendekatan pembelajaran yang digunakan, pada saat-saat tertentu selama berlangsungnya pembelajaran, diperlukan dialog antara guru dan siswa, serta antara siswa dengan siswa. Diskusi adalah suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan berlangsungnya dialog tersebut.

Sintaks diskusi berbeda dengan sintaks model pembelajaran yang lain. Misalnya, diskusi dapat terjadi pada pembelajaran kooperatif, antara guru dan sejumlah siswa pada pembelajaran berdasarkan masalah, dan resitasi pada pembelajaran langsung.
Diskusi merupakan komunikasi dimana khalayak berbicara dengan orang lain, saling membagi gagasan dan pendapat.

Diskusi digunakan oleh guru untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran (Arends, 1977) berikut ini: diskusi memperbaiki pemikiran siswa dan membantu mereka menyusun pemahaman materi akademis; mendorong keterlibatan dan keikutsertaan siswa-memberi kesempatan luas kepada siswa untuk mengutarakan ide-ide mereka sendiri, serta memotivasi siswa untuk ikut terlibat dalam pembicaraan di kelas; dan membantu siswa belajar keterampilan komunikasi dan proses berpikir.

Sintaks pembelajaran diskusi terdiri atas lima tahapan yaitu dimulai dengan guru menyampaikan TPK dan membangkitkan motivasi; memfokuskan diskusi; menyelenggarakan diskusi; mengakhiri diskusi; dan mengikhtisarkan diskusi. Salah satu aspek diskusi adalah kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan kognitif, menghubungkan dan menyatukan aspek kognitif dan aspek sosial dalam belajar. Diskusi kelas dapat digunakan untuk meningkatkan lingkungan sosial yang positif di kelas.

Model Siklus Belajar (Learning Cycle Model)

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Robert Karplus dalam proyek SCIS (Science Curriculum Inprovement Study) tahun 1970-an di Amerika Serikat. Model pembelajaran ini terdiri atas tiga fase sebagai sintaks pembelajarannya, yaitu sebagai berikut: eksplorasi à pengenalan konsep à aplikasi konsep.

Penjelasan masing-masing fase adalah sebagai berikut. Fase-1 (Eksplorasi), pada fase ini siswa secara langsung diberi kesempatan menggunakan pengetahuan awalnya dalam mengobservasi, memahami fenomena alam, dan mengkomunikasikannya pada orang lain. Fase ke-2 (Pengenalan Konsep), pada fase ini guru mengontrol langsung pengembangan konsep yang dilakukan siswa dan membantu dalam mengidentifikasikan konsep serta menghubungkan antar konsep yang telah mereka dapat. Fase ke-3 (Aplikasi Konsep), pada fase ini siswa melakukan kegiatan menerapkan konsep sains dalam konteks kehidupan sehari-hari atau disiplin ilmu lain dan selanjutnya menerapkan konsep pada situasi baru.

Model Pembelajaran Sains Teknologi dan Masyarakat (Science Technology and Society)

Model -model pembelajaran populer pembelajaran ini dikembangkan oleh Robert R. Yager dan kawan-kawannya pada tahu 1983 di University of Iowa, Iowa, USA. Dalam mengembangkan model tersebut mereka bekerja sama dengan banyak guru setiap tahunnya. Kerjasama ini bertujuan untuk membantu guru-guru dalam mengajar untuk mencapai lima tujuan pembelajaran sains, meliputi ranah (domain) konsep, proses, aplikasi, kreativitas, dan sikap.

Domain konsep, menitikberatkan pada muatansainsnya, yang meliputi fakta-fakta, prinsip-prinsip, penjelasan- penjelasan, teori-teori, dan hukum-hukum.
Domain proses, memfokuskan pada bagaimana proses siswa memperoleh pengetahuan seperti yang dilakukan oleh para saintis.

Domain ini meliputi proses-proses yang sering dikenal dengan istilah keterampilan proses IPA. Keterampilan proses tersebut meliputi: mengamati, mengklasifikasikan, mengukur, menginferensi, memprediksi, mengenali variabel, menginterpretasikan data, merumuskan hipotesis, mengkomunikasikan, memberi definisi operasional, dan melakukan eksperimen.

Domain aplikasi, menekankan pada penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan dalam memecahkan masalah sehari- hari, misalnya menggunakan proses-proses ilmiah dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, memahami dan menilai laporan media massa mengenai pengembangan pengetahuan, pengambilan keputusan yang berhubungan kesehatan pribadi, gizi, dan gaya hidup yang didasarkan atas pengetahuan/konsep sains.

Domain kreativitas terdiri atas interaksi yang kompleks dari keterampilan-keterampilan dan proses-proses mental. Dalam konteks ini, kreativitas terdiri atas empat langkah yaitu, tantangan terhadap imajinasi (melihat adanya tantangan), inkubasi, kreasi fisik, dan evaluasi. Domain sikap meliputi pengembangan sikap-sikap positif terhadap sains pada umumnya, kelas sains, program sains, kegunaan belajar sains, dan guru sains, serta sikap positif terhadap diri sendiri.

Sintaks Pembelajaran Sains Teknologi dan Masyarakat ini terdiri atas empat langkah, yaitu: invitasi, eksplorasi, pengajuan penjelasan dan solusi menentukan langkah. Penjelasan tahap-tahap pembelajaran Sains Teknologi dan Masyarakat adalah sebagai berikut.

Tahap Invitasi, pada tahap ini guru merangsang siswa mengingat atau menampilkan kejadian-kejadian yang ditemui baik dari media cetak maupun elektronik yang berkitan dengan topik yang merupakan hasil observasi. Selanjutnya siswa merumuskan masalah yang akan dicari jawabannya dengan tetap mengaitkan kepada topik yang dibahas. Peran guru sangat diperlukan untuk menghaluskan rumusan masalah yang diajukan siswa dan mengacu pada sumber belajar, bisa berupa LKS yang telah ada atau menyiapkan LKS yang baru.

Guru dan siswa mengidentifikasi bersama mengenai masalah atau pertanyaan atau jawaban sementara yang paling mungkin dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan lingkungan dan alokasi waktu embelajaran serta topik yang dipelajari.

Tahap Eksplorasi, pada tahap ini kegiatan yang dilakukan siswa merupakan upaya untuk mencari jawaban atau menguji jawaban sementara yang telah dibuat dengan mencari data dari berbagai sumber belajar (buku, koran, majalah, lingkungan, nara sumber, instansi terkait, atau melakukan percobaan).

Hasil yang diperoleh siswa hendaknya berupa suatu analisis dari data yang diperoleh. Kegiatan yang dilakukan siswa dapat mengacu kepada LKS yang telah ada untuk topik yang dielajari atau dapat juga mengembangkan sendiri berdasarkan LKS yang telah ada atau membuat LKS yang baru.

Kegiatan siswa dapat berlangsung di dalam kelas, halaman sekolah, atau di luar sekolah yang diperkirakan memungkinkan dilakukan oleh siswa. Kegiatan siswa pada tahap ini di antaranya dapat berupa urun pendapat, mencari informasi, bereksperimen, mengobservasi fenomena khusus, mendesain model, dan mendiskusikan pemecahan masalah.

Tahap Penjelasan dan Solusi, pada tahap ini siswa diajak untuk mengkomunikasikan gagasan yang die\peroleh dari analisis informasi yang diperoleh, menyusun suatu model, memberikan penjelasan (baru), meninjau dan mendiskusikan solusi yang diperoleh, dan menentukan beberapa solusi. Guru membimbing siswa untuk memadukan konsep yang dihasilkan dengan konsep yang dianut oleh para ahli sains. Peran guru hendaknya dapat menghaluskan atau meluruskan konsep siswa yang yang keliru.

Tahap Penentuan Tindakan, pada tahap ini siswa diajak untuk membuat suatu keputusan dengan mempertimbangkan penguasaan konsep sains dan keterampilan yang dimiliki untuk berbagai gagasan dengan lingkungan, atau dalam kedudukan sebagai pribadi atau sebagai anggota masyarakat.

Siswa juga diharapkan merumuskan pertanyaan lanjutan dengan ditemukannya suatu penjelasan terhadap fenomena alam (konsep sains), dan juga mengadakan pendekatan dengan berbagai unsur untuk meminimalkan dampak negatif suatu hal atau yang merupakan tindakan positif suatu masyarakat. Kegiatan siswa pada tahap ini di antaranya dapat berupa kegiatan pengambilan keputusan, penerapan pengetahuan dan keterampilan, membagi informasi dan gagasan, serta mengajukan pertanyaan baru.

2. Model Pembelajaran Sains Berbasis Etika

Model pembelajaran ini berkembang pada tahun 1970-an di beberapa negara barat yang didasarkan atas adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat di masyarakat yang tidak dapat diimbangi dengan perkembangan nilai-nilai etika dan moral di masyarakat. Akibatnya di kalangan para ahli sains dan masyarakat terjadi kesenjangan pemahaman terhadap nilai-nilai etika dan moral kemasyarakatan (Macer, 1995).

Para ahli pembelajaran sains telah merancang suatu model pembelajaran yang dapat menjembatani kesenjangan nilai-nilai etika dan moral tersebut dengan cara mengimplementasikan berbagai macam situasi riil dalam kehidupan sehari-hari tentang isu-isu sains yang berkaitan dengan etika dan moral di kelas sains maupun kelas non-sains.

Di sekolah-sekolah Indonesia, model pembelajaran sains berbasis etika (khususnya biologi berbasis etika atau bioetika) belum pernah diimplementasikan (Margono, 2000). Ujicoba model pembelajaran biologi berbasis etika sedang dilakukan di beberapa SMA di Kabupaten Jember.

Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa kemampuan berpikir etika dan moral siswa dalam memahami isu-isu bioetika yang berkembang di kehidupan riil terdapat hubungan secara signifikan setelah diberikan model pembelajaran biologi berbasis etika. Artinya bahwa kemampuan berpikir etika dan moral siswa dapat meningkat secara bertahap menurut teori Kohlberg setelah diberi model pembelajaran tersebut (Margono, 2003).

Model Model pembelajaran populer pada pembelajaran ini menekankan pada teori perkembangan kognitif dan teori sosial. Sintaks model pembelajaran ini terdiri dari empat tahapan sebagai berikut. a) Membuat peta konsekuensi. Tahap ini bertujuan untuk mendorong siswa mempertimbangkan seberapa jauh implikasi yang muncul dari permasalahan. b) Menganalisis keputusan untung- rugi. Tahap ini menekankan dua bentuk membuat keputusan yaitu secara normatif dan deskriptif. c) Menganalisis tindakan manusia dengan menggunakan pemikiran teori tujuan, hal, dan kewajiban.

Tahap ini merupakan salah satu cara untuk memecahkan kesulitan dalam merumuskan hipotesis yang mendasari rangkaian tindakan yang diterima dan mengujinya sebagaimana hipotesis kelmuan d) menggunakan pertanyaan terpusat. Tahap ini bertujuan untuk mencari permasalahan etika dalam pembelajaran sains yang menuntut guru untuk memperkenalkan ide-ide dan cara baru bagaimana siswa berpikir.

Penekanan mencari sumber-sumber belajar dari buku-buku terkait dengan topik, koran, media massa, majalah, internet, nara sumber yang berwenang, dan disertai aktivitas siswa dalam diskusi kelas untuk memutuskan isu-isu sains yang berbasis etika dan moral merupakan ciri khas dari model pembelajaran ini.

Baca jugacara menghitung keliling lingkaran sangat mudah

Demikianlah model pembelajaran populer yang banyak dijumpai saat ini disaat pandemi.

Belajar Tanpa Batas © 2021 Frontier Theme